Sawah Produktif, Kampung Lebah Dan Sekolah Burung

Berita Dewan Berita Media Press Release
Please follow and like us:
0

Erwin yang kesehariannya bekerja normal, dari pagi sampai sore disebuah pelayanan publik di luar Kabupaten Lebak. Biasa dipanggil guru oleh rekan-rekan komunitas burung berkicau, cukup banyak memberikan pelajaran, membuat saya mangut-mangut, bagaimana ngobrol urusan burung dari mulai sekedar hobi, sampai pada urusan penangkaran, pelestarian endemik dan habitat burung dan keseimbangan alam. Saya sampai mendatangi beberapa OPD di Lebak untuk menanyakan terkait perizinan, baik izin penangkaran ataupun izin edar. Namun belum mendapatkan informasi memuaskan. Dan cukup tercenung, terkait ide beliau tentang gagasan Rumah Burung atau Sekolah Burung, sebuah kawasan habitat yang diciptakan, bermimpi untuk menghimpun semua jenis burung yang
mulai langka, khususnya endemik Lebak atau Banten untuk dibudidaya, sekolah burung berkicau dan di “pamerkan” kepada publik, terutama para siswa sekolah, untuk menjadi Wisata Edukasi.

Berawal dari komunitas hobi, dan ngobrol tentang Burung Trucuk atau Jogjog, alam memberi kita ide dan inovasi. Berikutnya Ruhiana, sosok sederhana, pernah saya tulis dalam tulisan saya sebelumnya, tentang Anak Muda Berdaya, berkutat dengan padi dan tanaman sudah sejak “lepas” dari SMA, istiqomah menjadi petani. Menjadi kordinator kelompok tani (poktan) Suka Bungah, mimpi dan do’a nya membuahkan hasil. Saat ini beliau dikenal sebagai petani dan mitra kerja OPD di Lebak, Banten bahkan Pusat. Tak kurang Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten (BPTP Banten) memantau pertumbuhan padi milik Ruhiana menggunaan cctv tenaga surya online realtime, salah satu hamparan sawah yang dijadikan bahan informasi.

Tidak cukup disitu, belakangan beliau menyambut dan mengembangkan visi wisata kabupaten Lebak, di sekitar rumah dan hamparan sawah poktan nya. Maklum saja tanah rumahnya luas dan mewah (mepet ka sawah), dengan jalur lalu lintas dengan intensitas cukup ramai dibilangan desa Tambak baya Cibadak ini. Tidak menyia-nyiakan, beliau membuat saung-saung dan menambah dengan berbagai tanaman palawija semisal terong, cabai, roay (naon ngaran indonesia na nya ?), labu botol (labu madu), sereh, dan aneka jenis buah-buahan (tabulampot), serta kolam ikan. Saung-saung diatur tanpa merusak hamparan padi, ke depan bahkan beliau ingin mewujudkan jalan bambu di atas hamparan sawah, disamping sebagai wisata edukasi, juga memudahkan para petani mengangkut hasil padinya menggunakan kendaraan roda dua. Saya pernah merasakan makan liwet di saung beliau ini. Keinginan mengembangkan wisata edukasi pertanian, menjadi pilihan tepat yang dilakukan oleh beliau, semoga memotivasi para tunas anak bangsa mau dan bangga menjadi petani.

Untuk yang ketiga, seumuran dengan saya (biar berasa akrab.. haha), Badrul Munir, saat ini sedang mengembangkan ternak Lebah Teuweul, saya langsung jatuh cinta dan merasakan sensasinya berinteraksi dengan Lebah jenis ini, saya disuguhi untuk langsung nyomot sarang lebah di kotak sarang buatan. Atuh dak..karak ngasaan eta nu ngarana madu teuweul sing horeng amis jasa, sampai meleleh di mulut jeung leungeun… Yang menarik, apa yang beliau ceritakan, seperti salah satu tempat, saat saya menemui beliau. Lokasinya bekas banyak orang membuang sampah, kotorsaat memulai, tidak begitu luas, saat ini menjadi sangat nyaman, dengan berbagai tanaman rambutan nangka, matoa, lengkeng yang dapat berbuah. Belum lagi aneka bunga yang sengaja ditanam, termasuk bunga “air mata pengantin”, duh… dan si air mata pengantin yang tumbuh subur dengan bunga yang cantik inilah, salah satu makanan lebah ini. Dan secara tidak sengaja, lokasi yang asri, kemudian banyak di datangi berbagai burung. Ini sepertinya rahasia tak terduga, kenapa pohon berbuah baik dan bunga tumbuh subur.

Niat baik, menyuburkan pohon yang baik dan menghasilkan madu yang manis. Beliau memiliki mimpi mewujudkan kampung Lebah. Bahkan sepertinya, untuk sekolah dan kampung yang ingin mewujudkan sekolah atau kampung sehat, perlu berguru kepada beliau, karena lebah teuweul, merupakan jenis lebah jinak dan tidak menyengat (semoga saya tidak salah, atuh ja lebah na geh leutik). Sekolah dan kampung menjadi rindang dan semarak dengan bunga, menjadi laboratorium lapangan, sekaligus mendatangkan rupiah. Saat ini baru beberapa lokasi ternak lebah teuweul yang sedang beliau buat dan kerjasama. Semoga terus bertambah. Saya yakin mimpi beliau pelan tapi pasti akan terwujud. Wisata edukasi sekaligus rupiah mengalir secara tidak langsung. Proses belajar, pelestarian alam, terjaganya habitat, pemberdayaan ekonomi dan belajar jujur “dipertaruhkan” di sini, karena tak jarang kita temui madu aspal di pasaran.

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *